Nasional

Yunarto Wijaya Analisa Sosok Sandiaga & AHY Maju Pilpres 2024 Siapa yang Paling Berpeluang Menang

Pengamat politik Yunarto Wijaya menjelaskan peluang Sandiaga Uno dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk maju di ajang Pemilihan Presiden 2024 setelah membocorkan empat inisial yang diprediksi bakal maju. Seperti diketahui, Yunarto Wijaya sebelumnya telah memaparkan empat sosok pontensial yang akan berlaga di Pilpres 2024. Keempat sosok itu diungkap Yunarto Wijaya berdasarkan hasil survey yang telah dilakukannya sekitar Februari 2020 lalu.

Yunarto Wijaya memaparkan insial sosok potensial yaitu P, A, G, S. "Untuk Sandiaga Uno di posisi empat itu merupakan orang yang telah punya modal di 2019 lalu. Walaupun kita katakan dia telah lama berkarier politik itu sebenarnya enggak juga." "Lompatan dia cepat banget, tiba tiba sudah masuk level Pilkada tingkat 2 dan langsung menang saat menghadapi Ahok. Dia langsung jadi cawapres kemudian, padahal saat itu banyak orang berpikir AHY dan sosok lainnya yang bakal maju," ujar Yunarto Wijaya.

Yunarto menilai, posisi Sandiaga Uno di urutan keempat sebenarnya tidak mengejutkan bagi publik karena tingkat pengenalannya sudah lebih tinggi dibandingkan kepala daerah. "Dia juga punya atribut yang sesuai dengan calon pemilih nantinya yaitu generasi milenial. Sandiaga Uno itu muda, ngehype, dia juga mewakili latar belakang berbeda dengan darah biru atau anak jenderal," beber Yunarto Wijaya. Menurut Yunarto Wijaya, Sandiaga Uno merupakan perwakilan kelas menengah yang terjun ke dalam politik.

"Dia juga tetap di Gerindra tetapi posisinya lebih sulit secara nyata untuk maju jika tak memiliki partai karena ujungnya kita harus memenuhi presidential threshold. Kalau dia berdiri sendiri maka orang mempertanyakan nanti maju lewat partai apa, gimana caranya dia dapat dukungan kalau tak beli?" jelas Yunarto Wijaya. Yunarto menyatakan, Sandiaga Uno kemungkinan harus melawan ketua umum partainya yang memiliki ambisi juga. "Jadi dia masuk ke Gerindra yang notabenenya punya capres lebih kuat, punya orang yang jabatannya senior dan pemilik partai. Ini yang jadi pertanyaan, apakah keberadaannya di Gerindra nantinya akan jadi aset atau liability," papar Yunarto Wijaya.

Lebih lanjut, Yunarto Wijaya menuturkan sosok Sandiaga Uno yang lebih kuat dikonotasikan sebagai individunya daripada seorang anggota partai. "Sayang kalau Sandiaga Uno tak dikonotasikan sebagai sosok kaya, tajir, ganteng, pintar dan badannya bagus. Hal tersebut memiliki efek marketing yang lebih besar dibandingkan identitas partai," imbuh Yunarto Wijaya. Yunarto mengaku, atribut marketing politik yang menempel dengan sosok Sandiaga Uno berbeda dengan marketing politik tradisional.

"Dulu kita bicara tegas atau merakyat, dia ada di wilayah abu abu. Gue gak berani mendahului karena dalam waktu dekat ada kegiatan besar di Gerindra, jadi kita tunggu aja. Walaupun 34 kepengurusan Gerindra di tingkat provinsi menginginkan Prabowo Subianto maju kembali di Pilpres 2024," jelas Yunarto Wijaya. Dengan analisa Yunarto Wijaya itu, Robert Harianto menuturkan dua sosok muda dalam politik yaitu Sandiaga Uno dan AHY. Meski demikian, Yunarto Wijaya menjelaskan kedua sosok tersebut memiliki usia yang berbeda sehingga tak bisa dikatakan sama sama sosok muda.

"Tetapi Sandiaga punya atribut kualitatif yang cenderung ke generasi muda. AHY itu benar benar muda, baru berusia 40an tahun tetapi variabel pop Sandiaga Uno dekat dengan anak muda," imbuh Yunarto Wijaya. Dengan munculnya Sandiaga Uno dan AHY, Yunarto Wijaya lantas membandingkan peluang keduanya untuk maju di Pilpres 2024. "Kalau bicara dari sisi atribut marketing politik, Sandiaga lebih kuat karena dia punya modal lebih besar, dia mengalahkan AHY di Pilkada DKI 2017. Dia bagaimanapun berdiri sendiri sebagai variabel brand, dia bukan anak tokoh besar."

"Dia bukan anak proklamator dan tokoh besar lainnya yang terkadang jadi beban. Orang kalau melihat AHY itu simbol Yudhoyono junior. Sandiaga berhasil mendirikan brandnya independen di politik, itu kekuatan besar yang membentuk keunikan," tegas Yunarto Wijaya. Yunarto menerangkan, saat ini masyarakat lebih mencari keunikan sosok tokoh yang akan dipilihnya nanti. "Orang lebih mencari yang unik dan memiliki brand terbaru, that's why Jokowi sebagai sosok sederhana, Ahok dengan brand marah marah dan segala macam itu punya daya ledak lebih besar. Sandi lebih punya itu," terang Yunarto Wijaya.

Yunarto menilai, latar belakang keturunan darah biru yang tadinya dianggap modal besar untuk maju berpolitik saat ini justru dianggap hambatan. "Kalau dia hanya diposisikan sebagai anak SBY, maka itu jadi hambatan. Tetapi jika bisa melengkapi dengan atribut baru seperti dia lulusan terbaik dan sebagainya, dia bisa jadi besar juga," kata Yunarto Wijaya. Dengan asumsi kondisi ceteris paribus , lanjut Yunarto Wijaya, akan sulit bagi AHY untuk mengalahkan posisi Sandiga Uno yang berada di urutan keempat.

Sandiaga Uno memberi tanggapan terkait peluangnya maju di Pilpres 2024. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra juga berbicara soal kemungkinan berhadapan dengan Prabowo jika mencalonkan lagi serta peta pemilih di Pilpres 2024 yang disebut Sandi bakal berubah jauh. Di awal wawancaranya, Refly menanyakan kemungkinan Sandiaga Uno untuk menjadi Ketua Umum Partai Gerindra dalam Kongres Gerindra tahun ini.

Refly mengatakan dengan posisi Prabowo yang kini sibuk menjabat Menteri Pertahanan, tidak menutup kemungkinan bagi Sandi untuk maju sebagai Ketum Gerindra. Sandi kemudian menjawab bahwa Prabowo dipastikan bakal maju kembali sebagai Calon Ketua Umum Partai Gerindra di kongres tahun ini. Sandi bahkan telah memberikan dukungan secara langsung kepada Prabowo.

"Sekitar Januari akhir atau Februari awal, beliau (Prabowo) ngajak ngomong berdua dan beliau mengatakan akan maju kembali menjadi Ketua Umum di kongres yang akan datang. Kongres rencanamnya sebelum lebaran tapi karena covid 19 ya ditunda." "Saya katakan, itu hak prerogratif (Prabowo) dan saya mendukung (Prabowo maju kembali sebagai Calon Ketua Umum Gerindra," terang Sandi. Lebih lanjut, Sandi ditanya Refly soal opini yang muncul bahwa Sandi ditinggalkan saat Prabowo melakukan negosiasi hendak masuk ke pemerintahan menjelang Oktober 2019 silam.

Menjawab hal itu, Sandi mengatakan ada pembicaraan di awal soal negosiasi itu. Di sisi lain, dirinya saat itu belum resmi kembali ke Partai Gerindra. Proses negosiasi dilakukan oleh Prabowo sebagai Ketua Umum Gerindra bukan dalam kapasitasnya sebagai mantan Calon Presiden.

"Jadi pembicaraanya bukan antar paslon tetapi antara Gerindra dan koalisi Indonesia Maju,"ungkapnya. Soal posisi Gerindra saat ini, Sandi menegaskan Gerindra adalah partai pendukung pemerintah dengan dua menteri di kabinet. Namun, Sandi mengakui terdapat kader Gerindra yang diberi kebebasan yakni Fadli Zon yang diketahui masih terus melancarkan kritik ke pemerintah.

Hal itu juga berlaku untuk dirinya. "Pak Fadli itu bicara bukan mewakili Gerindra , Fadli Zon sebagai wakil rakyat. Saya juga bukan jubir Gerindra dan saya buka jubir siapa siapa, tetapi saya ingin terus berada di tengah tengah masyarakat," ujar dia. Refly Harun kemudian menanyakan soal peluang Sandi maju di Pilpres 2024.

Menurut Refly, sudah muncul gagasan untuk memasangkan Anies Baswedan dengan Sandi atau AHY dengan Sandi. Menjawab hal itu, Sandi mengatakan politik adalah sesuatu yang mengalir dan tidak bisa diatur atur. "Saya lihat politik itu nggak bisa kita atur atur, politik itu mengalir saja. Saya akan lakukan terus dengan ada di tengah masyarakat. Saya akan fokus memberi solusi lapangan pekerjaan dan membantu masyarakat yang saat ini mengeluh soal kenaikan harga harga, di bawah Relawan Indonesia Bersatu," ujar dia.

Masih belum puas dengan jawaban Harun, Refly kemudian bertanya jika nantinya di 2024 harus melawan Prabowo yang bisa saja berkolisi dengan Puan Maharani sebagai Calon Wakil Presiden. "Bicara politik ini kan kemungkinan kemunginan. Prabowo bisa saja maju lagi dan pasangannya Puan Maharani. Kemudian kelompok non state ini pengen figur lain. Anies Sandi misalnya. Anda membayangkan nggak bung bakal berhadapan dengan Prabowo? head to head," cerca Refly. Sandi kemudian mengaku tak ingin menjawab hal itu karena kemungkinan itu bagian dari hal yang tidak bisa ia kontrol.

"Ada hal yang bisa kita kontrol, ada hal yang tidak bisa kita kontrol. Hal hal yang nggak bisa kita kontrol percuma kita ngebayangin, percuma mikirin karena kita nggak bisa kontrol. Hal hal yang bisa kita kontrol saja yang kita pikirin," ujar Sandi. Menurut Sandi, berkaca dari pengalamanya dalam kontestasi Pilkada 2017 dan Pilpres 2019, dalam politik tidak ada yang pasti dan sangat cair. Di Pilgub DKI, awalnya ia maju sebagai Cagub dan di detik akhir ia justru menjadi Cawagub mendampingi Anies.

Padahal Anies sebelumnya tidak muncul sebagai Cagub. Begitu juga dengan Pilpres 2019, dirinya diminta menjadi calon wakil presiden mendampingi Prabowo di detik detik akhir. "Belajar dari dua pengalaman itu menurut saya (politik) sulit ditebak," ujar dia.

Sandi berpendapat Pilres 2014 akan berbeda dibanding Pilpres sebelumnya. Hal ini karena ada perubahan demografi pemilih. "Di 2024, demografinya akan berubah, populasi milenial akan menembus 50 persen, mereka yang berusia dibawahj 35 tahun. Menurut saya ini akan ada perubahan dari sisi elektoral. Ini yang saya belum dapat data terakhir karena saya nggak menjalankan politik praktis. Saya membayangkan profil pemilih kita akan berubah secara drastis dibanding tahun 2019," ungkapnya.

Terakhir Refly kemudian menanyakan biaya yang dilontarkan Anies di Pilgub DKI dan Pilpres 2019. Sandi menjawab ia mengeluarkan dana lebih dari Rp 300 miliar di Pligub DKI Jakarta dan Rp 600 miliar di Pilpres 2019. "Jadi total 1 Triliun," sahut Refly.

Sandi membenarkan dan ia mengaku tidak menyesal. "Buat saya tidak ada penyesalan, itu bagian pengorbanan dan perjuangan," kata dia. (*)

Berita Terkait

Cocok buat Update Status WhatsApp & Facebook 20 Ucapan Selamat Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2020

Nurofia Fauziah

Presiden Jokowi dan Agus Rahardjo Cs Diminta Duduk Bersama Bahas Nasib KPK

Nurofia Fauziah

Seolah-olah yang Disampaikan Menteri soal Mudik Membingungkan Meoldoko

Nurofia Fauziah

Mereka Sudah Ambil Ancang-ancang buat Pilpres 2024 Kata PDIP soal Manuver NasDem

Nurofia Fauziah

Ini Alasannya RS Darurat Virus Corona Wisma Atlet Kemayoran Tidak Terima Pasien Anak

Nurofia Fauziah

Mayoritas Menilai Bansos Pemerintah Tak Tepat Sasaran Survei Indikator Politik

Nurofia Fauziah

Dulu Kalau Ketemu Orang yang Bersin Kita Mendoakan Sekarang Lari Tunggang-langgang Fahri Hamzah

Nurofia Fauziah

Peringatan Dini Cuaca Ekstrem 15 Desember 2019 Hujan Lebat Disertai Petir di Sejumlah Wilayah BMKG

Nurofia Fauziah

Pimpinan MPR Minta Baleg DPR Pertimbangkan Penolakan Publik terhadap RUU HIP

Nurofia Fauziah

Prakiraan Cuaca Jumat Waspada Wilayah Tarakan & Manado Berpotensi Hujan Petir 12 Juni 2020 BMKG

Nurofia Fauziah

KPK Periksa Direktur PT Indonesian Advisory Terkait Dugaan Korupsi di PT DI

Nurofia Fauziah

Hujan Lebat di Banda Aceh & Bengkulu Prakiraan Cuaca BMKG di 33 Kota di Besok Kamis 5 Maret 2020

Nurofia Fauziah

Leave a Comment