Internasional

Ungkap Foto Ruang Isolasi Wanita Ini Bagi kisah Rasanya Dikarantina 12 Hari Sembuh dari Corona

Farah Salwani, wanita asal Malaysia, berbagai cerita pengalamannya menjalani masa karantina karena tertular virus corona. Dilansir dari Ohbulan, Farah Salwani harus diisolasi selama 12 hari semenjak dinyatakan positif Covid 19. Setelah sembuh dan diperbolehkan pulang, ia berkenan membagi kisahnya melalui Instagram.

Farah berpesan jika karantina karena virus corona tak semenyeramkan yang dibayangkan orang. Selama isolasi, Farah bahkan masih bisa menikmati waktu dengan menonton film secara online. Perawat dan dokter juga bersikap sangat baik kepadanya.

Meski tak diperbolehkan menerima kunjungan, Farah tetap mendapat perhatian dari orang luar. Makanannya sangat diperhatikan dan keluarga diperbolehkan mengirim berbagai makanan kesukaan Farah. Lalu seperti apa cerita Farah selama dikarantina?

Berikut foto foto ruang isolasi dan cerita selengkapnya: Cerita masa karantina Farah dimulai dari hari keempat isolasi. "Karantina hari 4 mulai merasa tubuh lemas.

Di ruang karantina, jendela pun tak boleh dibuka, hanya ditemani AC setiap hari. Makanan apapun yang diberi, rasanya tidak selera. Kopi tawar pun seperti tidak cocok di tenggorokan.

Sudah memaksa diri untuk makan, tapi lalu muntah," tulis Farah. Ia juga diajari cara memakai oksigen untuk meringankan sesak napas. "Untuk pertama kalinya memakai oksigen sendiri.

Belajar dengan perawat cara memasangnya, karena dokter dan perawat sangat sibuk. Duduk berdiam diri di rumah pun rasanya tak pernah seperti ini. Selalu sibuk dengan anak, kadang anak di depan mata kita tetap tak tenang.

Tapi di ruang karantina ini, mau nonton Netflix sampai mata pedas juga tak apa. Tapi kalau orangtua yang kena, mereka tidak mengerti Netflix atau game, paling hanya mengaji sepanjang hari." Farah juga bercerita petugas medis akan melakukan tes padanya tiap 72 jam sekali.

Tes itu untuk memeriksa apakah masih ada virus corona di dalam tubuhnya. Selama hasil tes masih positif, pasien tidak diperbolehkan keluar ruangan isolasi. Di hari kedelapan, Farah bercerita tentang cara petugas medis menanganinya.

"Memang tidak ada obat untuk penyakit ini, tak ada antibiotik. Kalau batuk, ya minum obat batuk. Kalau deman, diberi obat demam.

Kalau diare, diberi larutan garam. Kalau sesak, dokter bantu dengan oksigen. Sebenarnya, karantina ini semata mata untuk memonitor kita supaya tidak menulari orang lain.

Lebih dari itu, antibody diri sendiri yang bisa bertarung dengan virus ini. Kalau kena influenza, ada vaksinnya. Covid 19 tak ada, badan kita bertarung sendiri.

Itulah mengapa demam menjadi on off. Rasanya seperti sudah oke, tapi ternyata demam. Sampai tes dua kali menunjukkan kamu negatif, baru dibilang sembuh.

Tapi, sekali tubuh kita memenangkan perang dengan Covid 19, tak akan virus itu datang lagi. Penyakit ini seperti campak, kena sekali saja sudah tak akan lagi." "Orang banyak bertanya tentang gejalanya seperti apa, sebenarnya itu tergantung imun masing masing.

Kalau untukku, demam selama 3 hari, setelah itu tak merasakan apapun. Sehat seperti biasa. Tapi disaat merasa sehat itulah kita tetap harus sabat, karena tubuh masih positif Covid 19.

Jadi, meski sudah sehat, kamu belum tentu boleh pulang sampai hasil tes negatif. Pasien di sebelahku, anak umur 9 tahun dan 12 tahun juga tak merasakan demam. Mereka sehat saja seperti orang biasa.

Jadi kalau bertanya bagaimana gejalanya, aku juga bingung menjawab." Farah juga menunjukkan berbagai barang yang dikirimkan padanya dari orang luar. Rupanya, ketika dikarantina, Farah sedang berulang tahun.

Karena itu keluarga dan teman kerja mengiriminya banyak makanan. "Beruntungnya mertua memasakkan aku ikan bawal sambal taoco, untuk pertama kalinya berselara makan di ruang karantina. Ada air lemon siap potong, ada air kelapa, ada buah.

Terlihat sangat lezat sebab sudah bosan dengan makanan rumah sakit. Kakak ipar juga mengirimiku kue ulang tahun. Alhamdulillah, tak pernah terbayangkan rayakan ulang tahun di ruang karantina."

Pada hari kedua belas, kabar baik itu akhirnya datang pada Farah. Dua hasil tes terakhir menyatakan dirinya sudah bebas dari Covid 19. "I'm now free from Covid 19.

Terimakasih kepada semua yang mendoakan, yang membantu baik secara materi, waktu, dan tenaga. Semoga semua selamat dari wabah ini, dilindungi Allah selalu dan semoga Allah balas setiap kebaikan dengan sebaik baiknya balasan. Saat pertama kali tahu akan dikarantina, aku menangis.

Saat keluar karantina pun aku menangis, itulah ibu. Sekarang aku bisa kembali tidur memeluk anakku."

Berita Terkait

Intip Kemegahannya Rumah Mewah Baru Pangeran Harry dan Meghan Markle di Kanada Jadi Incaran Paparazzi

Nurofia Fauziah

Tak Akan Gunakan Akun Sussex Royal Lagi Pangeran Harry & Meghan Tutup Kolom Komentar di Instagram

Nurofia Fauziah

Rencana China Lakukan Latihan Militer di Laut China Selatan Buat Negara Tetangga Khawatir

Nurofia Fauziah

Sangat Membuat Trauma Kesaksian Wanita yang Merekam Detik-detik Kematian George Floyd

Nurofia Fauziah

Ayah Jacob Blake Ungkap Anaknya Lumpuh dari Pinggang menuju Bawah setelah Ditembak Polisi Wisconsin

Nurofia Fauziah

Pangeran Joachim dari Belgia Sampaikan Permohonan Maaf Positif Covid-19 setelah Berpesta di Spanyol

Nurofia Fauziah

Seekor Buaya Berukuran 4 Meter yang Dievakuasi dari Saluran Irigasi di Georgia Dikira Hoaks

Nurofia Fauziah

Begini Tanggapan WHO Soal Vaksin Virus Corona Milik Rusia

Nurofia Fauziah

Negara Bagian akan Lakukan Ini Secara Bertahap Donald Trump Rilis Tiga Fase Pembukaan Lockdown AS

Nurofia Fauziah

Sempat Lakukan Perjalanan & Gejala Bronkitis Ringan Penuturan Pasien Covid-19 di Alaska

Nurofia Fauziah

Pernah Tersandung Kasus Terorisme & Dipenjara Identitas Pelaku Teror London Bridge Terungkap

Nurofia Fauziah

Bocah 16 Tahun Habisi Nyawa Kakaknya Lalu Bunuh Diri Sehari Setelah Ulang Tahun sang Ibu

Nurofia Fauziah

Leave a Comment