Regional

Pengakuan Pelaku Kini Terancam 6 Tahun Penjara Ada 25 Korban Fakta Baru Kasus Fetish Kain Jarik

Polisi menangkap seorang pelaku pelecehan seksual berinisial G. Seperti diketahui, G merupakanpelaku pelecehanfetish kain jarik. Ia diringkus petugas di Kecamatan Selat, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, Kamis (6/8/2020) sore.

Selain itu, G juga dikenal sebagaimantan mahasiswa Universitas AirlanggaSurabaya. Jadiviral karena kasus pelecehan seksual berkedok riset. Penangkapan G melibatkan tim gabungan dari Polda Jatim, Polrestabes Surabaya, Polda Kalteng, dan Polres Kapuas.

Hal tersebut diungkapkan olehKanit Resmob Polrestabes Surabaya Iptu Arif Risky. "Tadi pagi diterbangkan ke Surabaya. Pukul 11 siang tadi sudah sampai di Mapolrestabes Surabaya," katanya saat dikonfirmasi, Jumat (7/8/2020) seperti dikutip dari Kompas.com. Polrestabes Surabaya dan Polda Jatim hingga saat ini sudah menerima tiga laporan tentang pelecahan seksual tersebut.

Lantas, apa saja fakta terbaru yang diungkap oleh pihak kepolisian? Mengutip dari berbagai sumber, simak ulasannya berikut ini: Polisi menjerat G menggunakan Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Hal tersebut diungkapkan oleh Kapolrestabes Surabaya Kombes Jhoni Isir. Ia menjelaskan alasan penetapan tersangka menggunakan sejumlah pasal dalam UU ITE itu. "Kita sempat menggali dan menganalisa beberapa pasal seperti Pasal 292, Pasal 296, dan Pasal 297 KUHP, namun belum bisa diterapkan, akhirnya kita menyimpulkan pasal yang paling pas adalah pasal di UU ITE," kata Jhoni di Mapolrestabes Surabaya, Sabtu (8/8/2020) seperti dikutip dari Kompas.com.

Dijerat menggunakan Pasal 27 Ayat (4) juncto Pasal 45 Ayat (4) dan atau Pasal 29 juncto Pasal 45B Undang Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE, dan atau Pasal 335 KUHP tentang Perbuatan Tidak Menyenangkan, dengan ancaman enam tahun penjara. Pasal yang disangkakan itu berbunyi, setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan atau mentransmisikan dan atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan atau dokumen elektronik yang memiliki muatan pemerasan dan atau pengancaman. "Pengancaman yang dimaksud adalah pelaku mengancam akan bunuh diri jika keinginannya tidak dilakukan korban. Korban dimaksud yang akan membungkus tubuhnya dengan kain jarik," jelas Jhoni.

Jhoni mengungkapkan,penerapan pasal tersebut telah melalui gelar perkara. Polisi juga telah memeriksa sejumlah ahli, seperti ahli pidana, kedokteran, budaya, dan ahli ITE. Pihak berwajib rencananya juga akan memeriksakan G ke dokter psikiater.

Pemeriksaan ini terkait dugaan perilaku menyimpang yang dilakukan G. Kepada polisi, G mengaku terangsang hasrat seksualnya saat melihat tubuh yang dibungkus dengan kain jarik. "Tersangka mengaku hasrat seksualnya timbul atau terangsang jika melihat tubuh seseorang yang terbungkus kain jarik seperti mayat," kata Jhoni, Sabtu (8/8/2020).

Mengakui bahwa perilakufetishtersebut sudah dilakukan sejak 2015 hingga saat ini. Selain itu, G mengaku sudah melakukan perilaku menyimpang tersebut kepada 25 orang korbannya. "Pengakuan tersangka ada 25 korban, tapi nanti masih kami dalami lagi," kata Jhoni.

Dalam penangkapan tersebut, polisi juga menyita sejumlah barang bukti. Sederet barang bukti yang diamankan polisi yakni satu lembar kain jarik batik, lembar kain putih, tali benang warna putih, tali benang warna hitam dan alat komunikasi. "Motifnya adalah rangsangan yang bersifat seksual dari orang dengan kondisi sudah dibungkus kain jarik," ujar Johnny Eddizon Isir.

Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel ikut memberikan tanggapan terkait apa yang dilakukan oleh Gilang. Reza Indragiri mengungkap analisanya terkait hal tersebut dalam vlog Helmy Yahya. "Kalau dia sudah berulang kali melakukannya dengan pakai kain jarik, maka termasuk fetistic disorder. Disini bukan lagi bicara perilaku seks tetapi sudah ada pelecehan seksual.

Sehingga bisa dibilang dia sudah terobsesi dengan fetish," ujar Reza Indragiri. Reza Indragiri menuturkan, kasus mendasar dari pelaku fetish kain jarik itu pelecehan seksual dan kejahatan seksual lantaran korban sempat menolak perlakuan Gilang. "Kalau kita buka KUHP, istilah yang dipakai pencabulan," ujar Reza Indragiri.

Reza Indragiri lanjut menjelaskan tentang gairah seseorang hingga bisa mencapai orgasme dengan benda di luar seks karena memiliki fetish tertentu. "Jadi dia mengandalkan stimulasi visual atau mungkin audio dari kejauhan," papar Reza Indragiri. Dalam kasus Gilang fetish kain jarik, Reza mengatakan bahwa ada tiga persoalan yang harus ditangani dengan tepat.

"Pertama tentang fetishnya, kedua orientasi seksual, ketiga kejahatan seksualnya," terang Reza Indragiri. Kemudian, Reza Indragiri menerangkan beberapa terapi pengobatan yang bisa diterapkan untuk pelaku fetish kain jarik tersebut. "Yang bersangkutan harus diedukasi kembali agar terjadi perubahan berpikir yang ujungnya perubahan perilaku terkait minder sikap perilaku, sehingga individu menemukan kembali keberdayaan dirinya, keunggulannya dengan cara yang martabat," tegas Reza Indragiri.

Tak hanya itu, Reza Indragiri menyatakan, temukan trauma pelaku dan cari cara menghadapinya. "Mustahil trauma dilupakan tetapi aku mampu menghadapinya dengan cara bertanggungjawab. Jadi bantu bersangkutan menemukan traumanya yang terjadi di usia dini," ujar Reza Indragiri. Sebelumnya,Universitas Airlangga (Unair)Surabaya sendiri telah mengambil tindakan untuk mengeluarkan G.

Berdasarkan informasi yang beredar, G jugaseorangmahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Unair Surabaya. Pihak kampus mengungkapkan, G dinilai telah melanggar etik dan mencoreng nama baik Unair. "Unair telah mengambil keputusan melakukan drop out (DO) kepada yang bersangkutan sesuai keputusan komite etik kampus," kata Ketua Pusat Informasi dan Humas Unair, Suko Widodo saat dikonfirmasi, Rabu (5/8/2020) seperti dikutip dari Kompas.com.

Sebelum mengambil keputusan tersebut, Rektor Unair Prof Muhammad Nasih sudah mengonfirmasi yang bersangkutan. Selain itu, pihak Unair jugamenghubungiorangtua sebagai wali mahasiswa terlebih dahulu. "Pihak wali mahasiswa menyesali perbuatan putranya dan menerima apapun keputusan pihak kampus," ucap Suko.

Suko menganggap tindakan G telah mencoreng nama baik Unair sebagai institusi pendidikan yang menjunjung tinggi nilai nilai moral. Pertimbangan lainnya, pihak kampus juga memerhatikan pengaduan sejumlah korban yang merasa dilecehkan dan direndahkan martabatnya. "Jika memang memenuhi unsur kriminal, kami menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada penegak hukum," ujar Suko.

Seperti diketahui, kasus ini bermuladari sebuah thread pemilik akun Twitter mufis @m_fikris. Ia mengaku menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan pria berinisialG. Akun Twitter tersebut membagikan ceritanya karena tidak ingin ada korban lain.

Melalui thread panjang, ia menjelaskan kronologiG melakukan pelecehan seksual terhadap dirinya. Pelecehan yang dialaminya tidak dilakukan secara langsung. Namun melalui foto dan video yang tidak wajar.

Gmeminta sang pemilik akun untuk membungkus dirinya memakai kain jarik. Setelah itu, G meminta agar dikirimi foto dan video [email protected]_fikrissudah dalam keadaan terbungkus. Di unggahannya, akun itu bercerita jika G memaksa lawan bicaranya untuk membungkus seluruh tubuhnya dengan kain jarik setelah sebelumnya kaki, tangan, mata, serta telinga ditutup menggunakan lakban.

Kompas.com mencoba menelusuri fakta di balik kasus tersebut: Di akun @m_fikris, G disebut juga melakukan ancaman jika permintaannya tersebut tak dilakukan oleh pemilik akun. Lalu, pemilik akun juga melaporkan tindakan G tersebut ke dua akun, #Unair_Officil dan @BEMFIBUA.

"Untuk pihak @Unair_Official dan @BEMFIBUA ada seorang mengaku sebagai mahasiswa anda dan telah melakukan pelecehan seksual kepada saya dan beberapa orang, mohon untuk ditindaklanjuti," lanjut pemilik akun @M_fikris. Utas tersebut pun segera mendapat respon dari sejumlah akun yang diduga menjadi korban G. Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unair, Prof Diah Arini Arimbi dalam rilis yang diterima Kompas.com, Kamis (30/7/2020) sore, membantah jika ada penelitian yang dilakukan di fakultas tak ada yang mengarah ke tindakan pelecehan.

"Semua penelitian ilmiah di Fakultas Ilmu Budaya tidak ada yang mengarah kepada aksi pelecehan seksual," katanya. Namun, terkait kasus "Fetish Kain Jarik", Diah berjanji tidak akan melindungi siapapun civitas akademika yang melakukan pelanggaran etika berperilaku di kampus, apalagi yang melanggar pidana.

Berita Terkait

Jasadnya Tersandar di Pohon Pinus Pensiunan Ini Ditemukan Tewas di Hutan Tiga Hari Tak Pulang

Nurofia Fauziah

Riwayat Penyakit hingga Jalani Rapid Test 2 Kali Perawat Meninggal di Surabaya karena Covid-19

Nurofia Fauziah

Perwaris Minta Masyarakat Tak Blow Up YouTuber Ferdian Paleka Kasus Waria Diberi Sembako Sampah

Nurofia Fauziah

Zuraida Hanum Pembunuh Hakim Jamaluddin Terus Menangis Dituntut Hukuman Penjara Seumur Hidup

Nurofia Fauziah

Crazy Rich Surabaya Ini Sindir Ferdian Paleka Naik Porsche Sambil Bagikan Uang & Bingkisan

Nurofia Fauziah

0 Terasa hingga Yogyakarta Gempa Pacitan M 5

Nurofia Fauziah

2 Orang Kritis Satu Warga Kalimantan Tewas Minuman Dioplos Pakai Disinfektan

Nurofia Fauziah

Polda Jatim Temukan Dua Orang Positif Covid-19 Lakukan Rapid Test Dadakan di Beberapa Tongkrongan

Nurofia Fauziah

Pasien Covid-19 di Tasikmalaya Ini Diduga Terpapar di Lembang Sehari Dirawat Lalu Meninggal

Nurofia Fauziah

Alasannya karena Tidak Dapat Jatah dari Istri Pria Ini Tega Cabuli Anak Tirinya

Nurofia Fauziah

Ide Buat Video hingga Bayaran Endorse kisah Seniman yang Viral Berkat Tarian Bergaya Wayang Kulit

Nurofia Fauziah

Yuli Diduga Meninggal akibat Serangan Jantung Bukan karena Kelaparan Tak Makan 2 Hari

Nurofia Fauziah

Leave a Comment