Bisnis

Pendapat Rektor UI tentang Daya Beli BBM yang Turun

Rektor Universitas Indonesia Prof. Ari Kuncoro menilai harga minyak mentah dunia kini anjlok karena kecilnya demand atau permintaan pasar menyusul munculnya pandemi Covid 19. "Pertama demand industri aviasi berkurang drastis, kedua daya beli BBM untuk rumah tangga dan UMKM menurun, ketiga BBM untuk sektor transportasi darat terpengaruh akibat faktor WFH," kata Prof. Ari saat diskusi virtual yang digelar BPH Migas di Jakarta, Jumat (12/6/2020). Prof Ari menambahkan poin berikutnya persepsi dan tuntutan masyarakat perkotaan terhadap volatilitas harga komoditas minyak dunia.

"Masyarakat berekspektasi penurunan harga BBM saat harga minyak dunia ikut turun," terangnya. Ia berkesimpulan untuk menangani suplai BBM yang tidak terserap secara baik ini, BPH Migas atau pihak terkait agar mengakselerasi transformasi digital sebagai proses bisnis. Serta pentingnya re organisasi untuk pengambilan keputusan yang lebih responsive.

"Untuk internal agar melakukan formalisasi Work From Home untuk fungsi fungsi terntu, serta membangun kolaborasi yang lebih sinergis dengan para stakeholders," tukas Prof. Ari. Dia menilai yang terpenting saat ini mengembalikan daya beli BBM di masa transisi new normal. Sementara Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) M. Fanshurullah Asa menjelaskan secara fundamental jenis BBM umum (JBU) permintaannya sangat merosot drastis.

Dia mengatakan hal itu tidak lepas dari dampak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam upaya memutus rantai Covid 19. "Penjualan JBU turun 34 persen dibanding tahun lalu hanya sekitar 663.812 KL sedangkan tahun 2019 mencapai 1.004.146 KL," kata Fanshrullah saat diskusi virtual di Jakarta. Sementara, realisasi penjualan JBU per hari seperti Premium Jalami, Pertalite Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, Pertamina Dex di kisaran 22.127 KL turun 34 persen dibanding tahun lalu.

"Di DKI Jakarta menurut catatan Pertamina penurunan penjualan sampai 50 persen," tambahnya. Menteri ESDM)Arifin Tasrif membeberkan alasan harga BBM di dalam negeri belum diturunkan meski minyak mentah dunia sedang anjlok dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR secara virtual, di Jakarta, 4 Mei 2020. "Harga jual eceran BBM bulan Mei masih sama dengan April 2020. Pertimbangannya karena pemerintah terus memantau perkembangan harga minyak dunia yang belum stabil atau memiliki volatilitas yang cukup tinggi," kata Arifin.

Menurutnya, faktor lain yakni pemerintah masih menunggu pengaruh dari pemotongan produksi OPEC+ sekitar 9,7 juta barel per hari Mei Juni 2020 dan pemotongan sebesar 7,7 juta barel per hari pada Juli Desember 2020 serta 5,8 juta barel per hari pada Januari 2021 April 2020. "Jadi periode masih panjang harga BBM di Indonesia juga bukan yang termahal di ASEAN, ada Singapura dan Laos di atasnya," tuturnya.

Berita Terkait

Harga Emas Antam Terkoreksi Rp5.000 menuju Level Rp1.035.000 per Gram

Nurofia Fauziah

5.412 Bus Tak Lulus Ramp Check buat Angkutan Nataru

Nurofia Fauziah

Direktur dari Garuda Dilengserkan Sriwijaya Air Kembali Rombak Direksi Lagi

Nurofia Fauziah

Wabah Virus Corona Bisa Membuat ASDP Merugi Hingga Rp 478 Miliar

Nurofia Fauziah

Pemerintah Diminta Perhatikan Hal Ini Sebelum Terapkan Aturan Transportasi Ekspor

Nurofia Fauziah

Rumah.com ‘Property Market Outlook 2020’ Prediksi Pasar Properti Nasional 2020 Lebih Menggeliat

Nurofia Fauziah

Kagama Inkubasi Bisnis Seri VII Bahas Seputar ‘Brand Vital Sign’

Nurofia Fauziah

Tahun Ini Ditargetkan Tinggal 80 Perusahaan Jumlah BUMN Dipangkas Jadi 107

Nurofia Fauziah

Mau Gunakan Jasa Pengiriman ke Luar Negeri? Perhatikan Hal Berikut  

Nurofia Fauziah

Waskita Gencar Kampanyekan Budaya K3 Menekan Angka Kecelakaan Kerja

Nurofia Fauziah

Simak Rinciannya Harga Emas Antam Selasa 19 Mei 2020 Capai Rp 924.000 per Gramnya Turun Rp 10.000

Nurofia Fauziah

Cara Uzbekistan Bidik Pasar Indonesia, Buka Rute Tashkent Jakarta Hingga Fasilitas Bebas Visa

Nurofia Fauziah

Leave a Comment