Pendidikan

Muhadjir Effendy Berharap 3 Prioritas Pendidikan Ini Bisa Dilanjutkan oleh Mendikbud selanjutnya

Muhadjir Effendy telah menyelesaikan tugas tugasnya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) tahun 2014 2019, bersamaan dengan berakhirnya periode Kabinet Kerja Jilid 1 di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Bersamaan dengan pergantian para menteri baru pada era Kabinet Kerja Jilid 2, Muhadjir mengungkapkan sejumlah prioritas diharapkan bisa dilanjutkan dan diselesaikan oleh siapa pun orang nantinya menjabat sebagai Mendikbud: “Yang saya minta untuk nanti yang melanjutkan itu yakni beberapa program yang diminta Presiden harus diprioritaskan. Pertama, pendidikan budi pekerti, kemudian lahir pendidikan karakter yang sekarang sudah ada payung hukumnya, yaitu Perpres Nomor 87 Tahun 2017. Itu harusnya nanti berkelanjutan karena sudah ada payung hukumnya,” jelas Muhadjir saat ditemui akhir pekan lalu di Jakarta.

Prioritas utama yaitu kelanjutan program pendidikan karakter yang disahkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Disebutkan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Prioritas kedua yaitu percepatan pelaksanaan Kartu Indonesia Pintar. KIP merupakan bagian dari Program Indonesia Pintar (PIP) yang merupakan bagian dari penyempurnaan program Bantuan Siswa Miskin.

Penerapan PIP berupa pemberian bantuan tunai pendidikan kepada anak usia sekolah yang berasal dari keluarga miskin atau rentan miskin, pemilik Kartu Keluarga Sejahtera, peserta Program Keluarga Harapan, yatim piatu, penyandang disabilitas, korban bencana alam atau musibah. Sasarannya yaitu peserta didik pemegang KIP; peserta didik dari keluarga miskin/rentan miskin dengan pertimbangan khusus; serta eserta didik SMK yang menempuh studi keahlian kelompok bidang pertanian, perikanan, peternakan, kehutanan, pelayaran, dan kemaritiman. “KIP sekarang sudah tersistem dengan baik. Kalau masih ada kekurangan, ya harus disempurnakan, tapi secara sistem sudah bagus, tinggal melanjutkan. Termasuk distribusinya harus tepat sasaran. Ini yang penting, karena di lapangan masih dijumpai orang yang harusnya layak menerima KIP, tapi tidak mendapatkan,” ungkap Muhadjir.

Dia mencontohkan sewaktu melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Nduga, Provinsi Papua. Di sana banyak ditemui anak yang menurut dia lebih layak mendapatkan KIP dibanding anak miskin di Pulau Jawa. Oleh karena itu, dia meminta kepada Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar untuk mendata kembali agar jumlah penerima KIP di Nduga dan Wamena bisa diperbanyak, terutama untuk anak SD di Nduga. Bahkan, kalau bisa semua anak SD di sana mendapatkan KIP. Namun, hal itu harus ada dikoordinasikan dengan Kementerian Sosial karena instansi itu yang mempunyai basis data terpadu tentang angka kemiskinan di daerah.

Muhadjir menambahkan, prioritas ketiga yaitu mengenai revitalisasi sekolah menengah kejuruan (SMK). Payung hukumnya pun sudah ada, yakni Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam rangka Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia. “Jadi secara bertahap akan dilakukan. Hal paling mendasar adalah perubahan pendekatan dari supply based menjadi demand based . Kurikulum dan pola pembelajaran SMK yang selama ini banyak ditentukan oleh kementerian, sekarang dibalik. Kurikulum ditentukan oleh pihak yang nanti menjadi pengguna lulusan SMK. Termasuk juga dual system , yaitu belajar dan praktik di lapangan, terutama di dunia industri,” paparnya. Muhadjir pun mengaku bahwa dia sudah berusaha menyelesaikan semua tugas yang diamanatkan Presiden Jokowi kepadanya sejak awal penugasan sebagai Mendikbud. Dia berharap pejabat berikutnya bisa melanjutkan program prioritas yang disebutkannya tadi.

“Saya kira kalau tugas pokok awal yang disampaikan Pak Jokowi kepada saya sudah ditunaikan semua, tinggal nanti dilanjutkan,” pungkasnya.

Berita Terkait

tapi Bukan Berarti KBM Tatap Muka di Sekolah wajib Dilakukan Tahun Ajaran Baru Dimulai 13 Juli 2020

Nurofia Fauziah

BPPT & President University Sepakati Kerjasama Pengembangan Techno Park

Nurofia Fauziah

Pelajar Indonesia Bisa Kuliah menuju Luar Negeri! melalui Pameran Pendidikan Ini

Nurofia Fauziah

Cara Pendaftaran SBMPTN 2019 di sbmptn.ltmpt.ac.id Lengkap dengan Cetak Kartu Peserta yang Benar

Nurofia Fauziah

Lembaga Sempoa Unggulan Sempoa SIP Gelar Uji Penyetaraan Internasional

Nurofia Fauziah

BNI & BTN SImak Cara Bayar via Bank Mandiri Pendaftaran UTBK SBMPTN Dibuka Hari Ini

Nurofia Fauziah

Langkah Awal Menuju Kampus Impian Try Out Masuk Kampus Chapter Bandung

Nurofia Fauziah

Gubernur Anies Pastikan Sekolah Terdampak Banjir Bisa Jalankan Aktivitas Belajar Mengajar

Nurofia Fauziah

Unika Atma Jaya Kembali Gelar Social Entrepreneur Marketplace  

Nurofia Fauziah

Nadiem Makarim Menjelaskan Apa Jeleknya Ujian Nasional Sehingga Diganti Assesmen Kompetensi Minimum

Nurofia Fauziah

Ini Daftar 100 Universitas Terbaik Nasional 2019 Berdasarkan Data Kemenristekdikti

Nurofia Fauziah

Gadis Bermata Biru Hidup 5700 Tahun Lalu Terungkap Asal Usulnya Berkat Jejak Ludah Di Permen Karet

Nurofia Fauziah

Leave a Comment