Nasional

KPK Periksa Direktur PT Indonesian Advisory Terkait Dugaan Korupsi di PT DI

Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan Pemeriksaan terhadap Direktur PT Indonesian Advisory Andri Sudibyo dalam kasus dugaan korupsi di PT Dirgantara Indonesia tahun2007 2017terkait penjualan dan pemasaran pesawat terbang dan helikopter. Tim penyidik bakal menggali keterangan dari Andri guna melengkapi berkas perkara Asisten Direktur Utama PT DI Bidang Bisnis Pemerintah, Irzal Rizaldi Zailani. "Diperiksa sebagai saksi untuk tersangka IRZ," ujar Plt Juru Bicara KPK Ali Fikridalam keterangannya, Rabu (15/7/2020).

Selain Andri, penyidik juga memanggi Dirut PTBumiloka,Nanang Hamdani Basnawi. Dia juga bakal diperiksa sebagai saksi untuk melengkapi berkas perkara tersangka Irzal Rinaldi Zailani. Sebelumnya, KPK tengah mendalami dugaan pengeluaran uang dari perusahaan mitra/agen penjualan dan pemasaran ke sejumlah pihak di PT Dirgantara Indonesia. Tim penyidik mendalami hal tersebut dari salah satu petinggi mitra penjualan dan pemasaran, Direktur PT Abadi Sentosa, Didi Laksamana.

"Penyidik kembali mendalami keterangan saksi tersebut terkait dengan dugaan pengeluaran uang dari PT Abadi Sentosa Perkasa yang diberikan ke pihak pihak tertentu (end user) yang ada di PT DI," kata Ali, Selasa (14/7/2020) malam. Dalam perkara ini, KPK menetapkan bekas Direktur Utama PT DI Budi Santoso dan mantan Asisten Direktur Utama PT DI bidang Bisnis Pemerintah Irzal Rizaldi Zailani sebagai tersangka. KPK menduga Budi dan Irzal bersama sejumlah pihak telah merugikan keuangan negara sekitar Rp205, 3 miliar dan 8,65 juta dolar AS atau sekira Rp300 miliar terkait kasus tersebut.

Nilai kerugian negara itu berasal dari jumlah pembayaran yang dikeluarkan PT Dirgantara Indonesia kepada enam perusahaan mitra atau agen penjualan dan pemasaran dari tahun 2008 hingga 2018. Padahal, keenam perusahaan tidak pernah melaksanakan kewajibannya sesuai dengan perjanjian. Kasus korupsi ini bermula pada awal 2008, saat Budi Santoso dan Irzal Rinaldi Zailani bersama sama dengan Budi Wuraskito selaku Direktur Aircraft Integration, Budiman Saleh selaku Direktur Aerostructure, serta Arie Wibowo selaku Kepala Divisi Pemasaran dan Penjualan menggelar rapat mengenai kebutuhan dana PT Dirgantara Indonesia (Persero) untuk mendapatkan pekerjaan di kementerian lainnya.

Dalam rapat tersebut juga dibahas biaya entertaintment dan uang rapat rapat yang nilainya tidak dapat dipertanggungjawabkan melalui bagian keuangan. Setelah sejumlah pertemuan, disepakati kelanjutan program kerja sama mitra atau keagenan dengan mekanisme penunjukkan langsung. Selain itu, dalam penyusunan anggaran pada rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) PT Dirgantara Indonesia (Persero), pembiayaan kerja sama tersebut dititipkan dalam 'sandi sandi anggaran' pada kegiatan penjualan dan pemasaran.

Budi Santoso selanjutnya memerintahkan Irzal Rinaldi Zailani dan Arie Wibowo untuk menyiapkan administrasi dan koordinasi proses kerja sama mitra/keagenan. Irzal lantas menghubungi Didi Laksamana untuk menyiapkan perusahaan yang akan dijadikan mitra/agen. Setelah itu, mulai Juni 2008 hingga 2018, dibuat kontrak kemitraan/agen antara PT Dirgantara Indonesia yang ditandatangani oleh Direktur Aircraft Integration dengan Direktur PT Angkasa Mitra Karya, PT Bumiloka Tegar Perkasa, PT Abadi Sentosa Perkasa, PT Niaga Putra Bangsa, dan PT Selaras Bangun Usaha.

Namun, atas kontrak kerja sama mitra/agen tersebut, seluruh mitra/agen tidak pernah melaksanakan pekerjaan berdasarkan kewajiban yang tertera dalam surat perjanjian kerjasama. Pembayaran nilai kontrak tersebut baru mulai dibayarkan PT Dirgantara Indonesia kepada perusahaan mitra/agen pada 2011 atau setelah menerima pembayaran dari pihak pemberi pekerjaan. Selama tahun 2011 hingga 2018, jumlah pembayaran yang telah dilakukan oleh PT Dirgantara Indonesia kepada enam perusahaan mitra/agen tersebut sekira Rp205,3 miliar dan 8,65 juta dolar AS.

Terdapat permintaan sejumlah uang baik melalui transfer maupun tunai sekira Rp96 miliar setelah keenam perusahaan tersebut menerima pembayaran. Kemudian uang itu diterima oleh sejumlah pejabat di PT Dirgantara Indonesia, termasuk Budi, Irzal Rinaldi, Arie Wibowo, dan Budiman Saleh. Atas tindak pidana yang diduga dilakukannya, Budi Santoso dan Irzal Rinaldi dijerat dengan Pasal 2 atau Pasal 3 UU nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.

Berita Terkait

KSAL Kunjungi Pasukan & Tinjau Sarana Prasarana di Perbatasan Indonesia-Malaysia di Pulau Sebatik

Nurofia Fauziah

Ini Dua Pelanggaran Terbanyak Selama Operasi Zebra

Nurofia Fauziah

Senam Irama hingga Soal TPS buat UTBK Jadwal & Live Streaming TVRI Belajar dari Rumah

Nurofia Fauziah

Panglima TNI Resmi Buka Gebyar Karya Pertiwi 2019

Nurofia Fauziah

857 Anak Dapat Remisi Sekaligus Ikut Program Sekolah Mandiri Merdeka Belajar

Nurofia Fauziah

Komisi I DPR Minta Aparat Bertindak Cepat Redakan Gejolak di Papua

Nurofia Fauziah

Pemudik Padati Terminal Terpadu Merak

Nurofia Fauziah

‘Tak Ada Efek Anak Muda Jangan Ragu’ Pengalaman Warga Bandung Disuntik Vaksin Covid-19 Asal China

Nurofia Fauziah

Ini Kata dr Risky Akaputra Alasan Tenaga Medis Tetap Tertular Covid-19 meski Pakai APD Lengkap

Nurofia Fauziah

Jawaban SMA TVRI Rabu 10 Juni Bagaimana Tanggapanmu tentang Cara Menghafal dengan Teknik Menyanyi

Nurofia Fauziah

Berikut ketentuan & Cara Daftar Pendaftaran Kartu Pra Kerja Gelombang II Dibuka 20 April 2020

Nurofia Fauziah

Uang Calon Jemaah Akan Dikembalikan Jika Ibadah Haji Tahun Ini Batal

Nurofia Fauziah

Leave a Comment