Bisnis

Kelapa Sawit, Industri yang Paling Memungkinkan Dibawa Masuk ke Berbagai Pelosok Indonesia

– Kelapa sawit bagi Indonesia merupakan anugerah yang membewa berkah dan solusi untuk membuka isolasi sekaligus memajukan daerah di berbagai pelosok negeri. Industri kelapa sawitlah industri yang paling memungkinkan untuk dibawa masuk ke berbagai pelosok wilayah Indonesia untuk memajukan dan meningkatkan ekonomi warganya. “Coba kita lihat, selain sawit, tak banyak pilihan industri lain bersekala besar yang bisa dibawa ke berbagai wilayah Indonesia,” ungkap Agung salah satu Ketua Kelompok Tani di kebun kelapa sawit Desa Tua’ Abang, Semitau, Kapuas Hulu. “Misal idustri sepatu atau garmen, mungkin benar bisa menyerap tenaga kerja besar, tapi mungkin gak dibawa ke pelosok daerah seperti daerah kami ini. Kalaupun jawabnya bisa, ada pertanyaan lain, mungkin gak industri itu melibatkan seluruh masyarakat di daerah itu? Saya pikir, tidak. Hanya warga tertentu yang bisa direkrut untuk terlibat dalam industri itu,” beber Agung yang mengaku perantauan dari Purworejo, tapi menetap dan menikah dengan warga setempat.

Pernyataan Agung mungkin tidak berlebihan. Kelapa sawit cocok ditanam di hampir seluruh wilayah Indonesia dan bisa melibatkan seluruh warga masyarakat di daerah yang dibuka lahan untuk perkebunan kelapa sawit, baik sebagai petani maupun sebagai pekerja, tanpa perlu persyaratan pendidikan dan kecakapan. Sebagai contoh di lahan perkebunan kelapa sawit milik anak usaha Sinarmas di regional Semitau, Kapuas Hulu. Tiga anak usaha Sinarmas, yakni PT PT PIP, PT PGM, PT KPC yang mengelola sedikitnya delapan kebun sawit, yang terdiri dari 5 kebun inti dan tiga kebun plasma, dengan luas kebun seluruh tertanam mencapai 17.363 hektar. Pekerja yang terlibat mencapai 4 ribuan orang. Sekitar 40 persen pekerja dari masyarakat lokal dan 60 persen pendatang.

Untuk masyarakat sekitar, selain tercatat sebagai pekerja di perkebunan, juga sekaligus sebagai petani plasma. Luas lahan yang dimiliki warga bervariasi, minimal dua hektar. Di Semitau yang dikelola tiga anak usaha Sinar Mas ada tiga kebun plasma dan lima kebun inti milik perusahaan. PT PIP) memiliki 2 kebun inti yaitu TNKE dan BLNE dan 1 kebun plasma BLNA. Kemudian PT PGM, memiliki 2 kebun inti KHLE, dengan SBRE, dan 1 kebun plasma KHLA. Sedangkan untuk PT KPC memiliki 1 kebun inti MTNE dan 1 kebun plasma MTNA. Secara nasional, berdasarkan catatan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia (BPDP KS) lebih dari 50 persen pemain di industri sawit adalah petani rakyat.

"Minyak sawit juga berkaitan erat dengan SDGs dan sustainability management. Lebih dari 50 persen pemain di industri sawit adalah petani rakyat, umumnya mid low income yang mengontrol tidak lebih dari empat hektar kebun, terdiri dari masyarakat setempat dan transmigran," ungkap Direktur Eksekutif BPDP KS Dono Boestami. Data dari BPDP KS menunjukkan sejak 2000, industri sawit Indonesia telah menolong 10 juta orang keluar dari kemiskinan. Dan sekitar 1,3 juta orang di perusahaan juga terangkat dari garis kemiskinan karena dampak langsung industri ini.

"Daerah dengan ekspansi kelapa sawit memiliki penguraangan kemiskinan yang lebih signifikan dibandingkan dengan daerah lain dan nasional," imbuhnya. Dono menuturkan sektor minyak sawit berkontribusi terhadap enam pencapaian SDGs di Indonesia. Sektor minyak sawit mendukung pengurangan kemiskinan dan ketidaksetaraan yang merupakan agenda SDGs. Kemudian, sektor ini juga mendukung penyediaan makanan secara merata di daerah industri sawit. "Sektor kelapa sawit juga mengembangkan energi terbarukan dan reduksi emisi. Mendukung moratorium hutan utama dan mendukung managemen pencegahan kebakaran hutan," terang Dono.

Dan tentunya, imbuh dia, sektor kelapa sawit berperan siginifikan dalam pertumbuhan ekonomi, menghasilkan jutaan pekerja dan menyimpan devisa. Meski Indonesia kerap kali diterpa isu negatif tentang perkelapasawitan, namun keberadaan tanaman komoditas tersebut ternyata mampu menjadi sumber pemasukan yang signifikan bagi devisa negara. Capaian positif tersebut dirasakan dengan peningkatan ekspor cangkangkelapa sawitIndonesia yang meluas ke berbagai negara.

Pun keberadaan cangkang kelapa sawit sendiri yang selama ini kerap dianggap menjadi limbah pabrik kelapa sawit, ternyata memiliki manfaat alternatif dalam energi berkelanjutan yang ramah lingkungan dibandingkan energi fosil. Dengan kondisi tanah dan iklim di Indonesia yang sesuai untuk perkebunan kelapa sawit, membuat sumbangan ekspor sawit menjadi salah satu yang tertinggi di antara komoditas lainnya. Dari hasil riset Perkumpulan Prakarsa menyebutkan, minyak sawit menjadi komoditas penyumbang ekspor terbesar di Indonesia dalam kurun waktu 1989 2017.

Tak hanya itu, pertumbuhan nilai ekspor minyak sawit per tahun pun rata rata mencapai 2.782 persen. Berdasar riset tersebut, tentunya menunjukan produktivitas kelapa sawit di Indonesia saat ini lebih tinggi dalam menghasilkan minyak nabati dibanding jenis tanaman lain. Hal tersebut tergambar dalam kurun waktu 1970 2017, tingkat produksi minyak sawit mencapai 3,6 ton per hektar per tahun.

Sedangkan, produksi CPO Indonesia sebesar 44 juta ton sampai dengan 46 juta ton per tahun dengan luas lahan sebesar 14 juta hektare. Selain lebih ramah lingkungan dibanding energi dari fosil, cangkang kelapa sawit juga menjadi yang paling murah dibanding energi tersebut. Dari keunggulan yang dimiliki tersebut, setelah memenuhi kebutuhan dalam negeri, cangkang sawit dipastikan bakal terus merambah dunia.

Pada tahun 2018, tercatat ekspor cangkang sawit ke Jepang sebanyak 227 ton atau setara dengan Rp 770 miliar. Sedangkan dalam periode Januari hingga Juli 2019, ekspor cangkang sawit ke negara yang sama mengalami peningkatan volume sebanyak 252 ton dengan nilai ekonomi Rp 855,8 miliar. Indonesia juga telah terbukti menjadi produsen kelapa sawit terbesar di dunia, sesuai dengan instruksi presiden untuk menggencarkan ekspor nonmigas demi mendorong neraca perdagangan Indonesia.

Kodim salah satu tetua adat di Dusun Nanga Bian, Desa Tua’ Abang, Semitau, Kapuas Hulu, menceritakan , turun temurun warga di daerahnya adalah bertani padi dan mencari ikan dan berburu, termasuk dirinya. “Ladang kami berpindah pindah, letaknya jauh dari kampung, jadi kami sering hidup di ladang, hanya sesekali balik ke kampung,” ujarnya mengenang kehidupannya di masa lalu. Kehidupannya dari bertani dan mencari ikan hanya cukup untuk makan dan kebutuhan sehari hari. Tidak ada kemajuan. Dari generasi ke generasi kehidupannya hanya begitu, sekedar bertahan hidup.

“Mencari ikan memang gampang, bisa dapat banyak, tapi tidak bisa menjualnya. Kalaupun dijual, harganya murah. Warga bisa cari ikan sendiri sendiri, tidak ada yang mau beli, Begitu juga hasil pertanian, di jual murah dan susah membawanya ke pembeli, karena tidak ada jalan, hanya naik perahu, jauh,” katanya. Pernah masuk perkebunan karet ke daerahnya yang memberi harapan kehidupan lebih baik, tapi saat mulai panen karet, harga karet jatuh. Murah baget. “Kamipun patah semangat. Kami bersemangat lagi setelah ada perkebunan sawit masuk, yang banyak memberi harapan. Kami bisa pekerja di perkebunan, sekaligus bisa memiliki tanaman sawit di lahan kami,” ungkapnya.

Menurutnya, hadirnya kebun kelapa sawit ke daerahnya banyak membawa perubahan. “Dari segi ekonomi, kehidupan kami lebih baik”. “Contoh sederhana saja, kalau dulu kami datang ke warung gak bawa duit, gak bakal dilayani. Karena memang tidak ada hasil yang dapat kami pakai untuk membayarnya nanti.” “Tapi sekarang, pasti dilayani karena kami pasti dapat duit bayaran dari kerja kami. Ada kepastian penghasilan sebagai pekerja di kebun. Kalau dulu, kami hanya bertani dan mencari ikan, yang belum tentu hasilnya,” jelas.

Di luar itu, Kodim menceritakan kemajuan di daerahnya sejak ada perkebunan sawit beberapa tahun lalu. Kalau dulu tidak punya jalan, sekarang jalan lebar dan nyambung ke mana mana. Mobil, truk dan motor dengan gampang masuk ke daerahnya. Kehadiran kebun sawit di daerahnya membukan jalan lebar lebar, meski masih berupa tanah dipadatkan. “Kalau dulu tidak ada jalan. Kami kemana mana lewat sungai pakai perahu. Lama dan jauh. Sekarang gampang, jalan sudah lebar lebar dan nyambung ke mana mana. Banyak warga yang punya mobil dan motor,” Kodim berapi api bercerita.

Masih ada lagi kemewahan, yang menurut Kodim bisa dinikmati warga. Sinyal telepon bisa masuk, sehingga komunikasi ke mana mana lebih mudah. “Telpon anak yang sekolah di luar juga gampang, mau jual barang juga gampang. Coba lihat sekitar sini, sudah mulai beberapa warga punya sarang burung walet.” “Dulu kami tidak kepikiran itu, tapi seiring hadirnya telepon dan internet, warga mulai kepikiran, mulai tahu caranya, dan mulai membuat rumah sarang burung walet. Tahu juga harga jualnya dan tahu kemana harus menjualnya. Dulu, mana bisa, tidak kepikiran dan tidak tahu kalau mahal dan menguntungkan. Kami tidak ada komunikasi dengan dunia luar,” bebernya.

Bukan itu saja, anak anak di daerahnya sekarang sudah dapat menikmati pendidikan tinggi sampai di kota. Seperti anaknya Kepala Desa sudah sekolah ke kota semua. Bahkan ada yang sudah kuliah dan kini sudah mau lulus jadi sarjana. “Terus untuk penerangan, kami sudah bisa menikmati listrik. Dulu kami hanya pakai karet untuk penerangan di malam hari,” ungkap Kodim Kemajuan daerah dan perbaikan ekonomi warga dengan hadirnya kebun kelapa sawit tak bisa dipungkiri. Namun demikian juga ada ekses yang ditimbulkan. Salah satunya adalah sumber air.

Menurut keterangan Kades, Desa Tua’ Abang, Dusun Nanga Bian, Semitau, Kapuas Hulu, Paulus Sarman, secara turun temurun kehidupan masyarakat mengandalkan air dari danau atau sungai. Tidak memiliki sumur. Pola ketergantungan pada pada sumber air alam ini yang kemudian terganggu dengan hadirnya perkebunan kelapa sawit. “Kami jadi was was untuk mengunumsi air danau atau sungai. Sebab kami tahu, pengelolaan kelapa sawit tidak bisa lepas dari pupuk kimia dan pestisida. Sementara sumber air dari gunung yang mengalir ke danau dan sungai kami ini melewati kebun kebun sawit,” katanya.

Diakuinya memang belum ada kasus yang meninggal atau keracunan karena mengunsumsi air danau atau sungai. “Tapi kami tidak nyaman lagi konsumsi air danau dan sungai yang sudah terkontaminasi pupuk kimia dan pestisida. Kami harus beli air minum galon untuk konsumsi atau menadah air saat hujan. Kalau musim kemarau seperti ini, kan, tidak bisa mengadalkan air hujan,” ujarnya. Dengan adanya perubahan pola hidup masyarakat ini Sarman meminta pihak perkebunan kelapa sawit ikut memikirkan dan mencarikan solusi. Begitu juga dengan Pemerintah daerah setempat.

“Tahun 2016 kami mengebor sampai 40 meter, tapi tetap belum dapat air. Entah ini kesalahan ambil tempat mengebor atau memang tidak ada airnya, kita tidak tahu,” bebernya. Menurut Sarman, di gunung masih ada sumber air, yang bisa dimanfaatkan. “Tapi bagaimana agar sumber air itu bisa sampai ke warga, itu yang perlu dipikirkan bersama antara warga, perkebunan kelapa sawit dan pemerintah daerah. Kalau warga sendirian untuk mencari solusi, sulit, terbentur dana,” katanya. Sarman menungkapkan, di wilayahnya ada 571 jiwa dan 161 KK yang tersebar di dua dusun. Hampir semua warganya terlibat dalam perkebunan kelapa sawit, baik sebagai petani plasma ataupun pekerja.

Kehadiran perkebunan kelapa sawit anak anak usaha Sinarmas di wilayah Kapuas Hulu tidak hanya melibatkan masyarakat setempat sebagai perkerja dan petani plasma. Tapi juga pemberdayaan dengan membuka berbagai alternatif sumber kehidupan. Berbagai pelatihan dan pendampingan diberikan ke masyarakat sekitar. Sepeti membuat kerajinan tangan, menanam teh dari bunga rosela, membuat pupuk kompos, menanam kelor untuk membuat herbal Moringa. "Ada yang kami ajari membuat keranjang dari bambu, kemudian nanti hasilnya kita beli untuk kebutuhan di kebun. Jadi di sela sela berkerja di kebun, warga di rumah bisa mencari hasil tambahan dari membuat kerajinan,” ungkap Herman Teguh Wibowo, Regional Control (RC) PT Paramitra Internusa Pratama (PIP), PT PGM dan PT KPC di Semitau, Kapuas Hulu.

Staf CEO PT Sinar Mas Ismuhyar Effendi mengungkapkan, bekerjasama dengan lembaga lain, anak usaha Sinar Mas di Semitau juga membuat Pusat Pelatihan Pengembangan Masyarakat (P3M). Di lembaga ini bersama masyarakat mengembangkan pupuk kompos, percobaan penanaman berbagai jenis bambu, bunga rosela sampai menjadi teh rosella dan manisan rosella. Dikembangkan juga pembuatan herbal Moringa. “Jadi masyarakat diberi pelatihan dan pendampingan menanam sampai memproses teh rosela, manisan rosela, sirup rosela, menanam pohon kelor sampai menjadi herbal Moringa,” jelas Ismuhyar.

Konsultan di P3M Edo Sujarwo menuturkan, kegiatan di P3M sudah berlangsung sejak tahun 2017. Awalnya pembuatan kompos, kemudian berkembang ke pembuatan herbal Moringa dari daun kelor, teh rosella, manisan rosella, dan sirup rosela. “Kita sebelumnya sudah dilakukan penelitian, ada lahan untuk membuat kompos, menanam pohon daun kelor, dan bunga rosella. Bahkan tanaman bambu dari berbagai jenis juga kita coba. Ini untuk memberi alternatif dan penyangga kehidupan warga sekitar,” harapnya. Diungkapkan, masyarakat dilatih dan didamping mulai dari menanam sampai memproses menjadi produk.

“Seperti daun kelor untuk membuat herbal Moringa, kita ajari mulai dari menanam, kapan memetik daunya, penjemuran dan pengeringan, hingga memproses menjadi kapsul herbal Moringo,” katanya. Pihaknya juga mencarikan pasar untuk produknya. Untuk produk dari rosella dan herbal dari daun kelor baru untuk konsumsi lokal dan sebagian lagi dikirim ke Bali karena ada kerjasama dengan pihak asing, yakni dari Swis. Kehadiran industri kelapa sawit di Indonesia tak lepas dari isu negatif, mulai dari tudingan kerusakan lingkungan, perambah hutan lindung, hingga isu dumping dan subsidi.

Untuk mematahkan berbagai isu tersebut, perkebunan kelapa sawit ingin memberi bukti. Agustinus Nainggolan, Kordinator SPO Region Semitau, PT PIP menuturkan, di Tengkawang Estate sendiri terdapat areal konservasi. Areal HCS, (Hutan Karapatan) HK 1, dengan luas 3.673 hektar, yang sudah mengantungi izin, ada perawatan pada areal batas, pentingnya HCS bagi lingkungan kendati masih milik masyarakat. Selain HK1 juga ada HK2 dan HK3. Dengan total keseluruhan areal konservasi seluas 4.800 Ha. “Kami juga terus sosialisasikan, kumpulkan orang warga sendiri, dari dua desa. Edukasi terus diberikan mengenai potensi ruang lingkup dan mengidentifikasi sumber daya, itu yang penting,” ulasnya.

Menurutnya, kita perlu melindungi lingkungan hutan ini untuk masa mendatang. “Melindungi dan merawat areal konservasi melalui identifikasi skupnya land skip, tata ruang desa,” kata Nainggolan. Menurut Nainggolan, pihaknya juga melibatkan dari Dinas Pemerintahan, Kementerian Pertanian, dan per 6 bulan tetap dikontrol luas konservasi hutan lindung. “Kami kontrol melalui radar set, kalau ada bukaan lahan hutan konservasi, maka akan kelihatan. Kemudian kita cek, dan akan tanyakan ke masyarakat siapa yang membuka lahan,” katanya.

Untuk perawatan dilihat dari diameter pohonnya seperti di HK1, seperti mengecek 20 25 pada lingkar batang.HCS itu sendiri keseluruhannya terdiri dari 4.800 Ha (PT PIP).Di mana penetapan HCS itu dulu dikampanyekan oleh Green Peace, Konsultan Earth Warm dan PT Smart. “Kami juga terus mengedukasi masyarakat agar tidak lagi membuka lahan dengan cara membakar. Kampanye ini penting untuk dilakukan terus menerus, untuk mengubah pola yang sudah berlaku dari turun temurun. Mereka sudah biasa membuka lahan dengan membakar,” jelasnya. (Sugiyarto)

Berita Terkait

Selama Kepemimpinannya Gapura Angkasa Jadi ‘Tong Sampah’ Kejengkelan Serikat Pekerja menuju Ari Askhara

Nurofia Fauziah

Harga Emas Antam Terkoreksi Rp5.000 menuju Level Rp1.035.000 per Gram

Nurofia Fauziah

Harta Pemilik Grup Djarum Bertambah Rp 107 Triliun Tujuh Pekan Terakhir

Nurofia Fauziah

Jadi Proyek Strategis Nasional, PT KCN Minta Kepastian Invetasi di Proyek Pelabuhan Marunda

Nurofia Fauziah

Situs Flightradar24.com hanya Deteksi Satu Pesawat Sriwjaya Air yang Terbang Buntut Kisruh

Nurofia Fauziah

DPR Minta Menhub Perhatikan Isu Garuda vs Sriwijaya & Harga Tiket Pesawat

Nurofia Fauziah

Catat! dari Senin Besok Jam Operasional BCA Tutup Sejam Lebih Awal

Nurofia Fauziah

Prupay Link Jadi Inovasi Digital Permudah Nasabah Bayar Premi

Nurofia Fauziah

Siapkan Nomor ID Pelanggan Cara Dapat Token Gratis PLN Kompensasi Covid-19 Login www.pln.co id

Nurofia Fauziah

Wabah Virus Corona Bisa Membuat ASDP Merugi Hingga Rp 478 Miliar

Nurofia Fauziah

APTI Memprediksi Penjualan Rokok Turun Akibat Kenaikan Tarif Cukai

Nurofia Fauziah

Oneject Indonesia Bangun Pabrik Jarum Suntik Senilai Rp 350 Miliar

Nurofia Fauziah

Leave a Comment