Bisnis

Dirjen IKMA Kemenperin Tampung Aspirasi Pelaku Industri Mainan

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih mengunjungi dua produsen mainan anak, yakniPT Sinar Harapan Plastik (SHP) di Jakarta Barat, dan PT Megah Plastik di Tangerang pada Selasa (7/5/2019). Kunjungan tersebut merupakan agenda rutin guna memahami situasi lapangan sekaligus menyerap aspirasibpara pelaku industri secara langsung. "Potensi industri mainan anak ini besar. Saya datang buat ketemu pelaku pelaku industri yang tahu kan mereka (kebutuhan industri). Dengan kunjungan seperti ini nanti akan saya list apa saja yang kita (pemerintah) perlu lakukan," kata Gati.

Sebagai informasi, PT Sinar Harapan Plastik, merupakan produsen mainan anak dengan merek 'SHP Toys' untuk pasar dalam negeri. Sementara untuk untuk pasar luar negeri, merek yang digunakan yaitu 'Winny Will'. Produk yang dihasilkan antara lain, mobil mobilan dan sepeda mainan tunggang berbahan baku plastik atau sering disebut denganplastic injection. Kapasitas produksi PT SHP saat ini mencapai sekitar 120.000 pcs/bulan dan menyerap tenaga kerja sekitar 500 orang yang sebagian besar lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Sementara kapasitas produksi PT. Megah Plastik meningkat dari tahun ke tahun dan pada tahun 2018 telah mencapai 52.000 dus. Perusahaan yang tadinya sebagai importir itu beralih menjadi produsen mainan anak dalam negeri sejak 2014. "Mainan seperti ini demandnya tinggi, ekspor baru 20 persen sisanya dalam negeri, berarti dalam negeri bagus. Jika proses produksi lancar dibantu dengan kemudahan pemerintah akan lebih baik," ujarnya. Menurut Gati, kinerja industri mainan memberikan kontribusi cukup signifikan bagi pertumbuhan manufaktur dan ekonomi nasional. Terlebih lagi, industri mainan tergolong sektor padat karya yang berorientasi ekspor.

“Kami sampaikan bahwa ekspor komoditi mainan di tahun 2018 mencapai USD 381,2 juta, naik sebesar 16,57 persen dibandingkan tahun 2017 sebesar USD 347 juta,” paparnya. "Penyerapan tenaga kerja di sektor industri mainan sebanyak 23.644 orang dengan nilai investasi pada tahun 2017 sebesar Rp. 410 Miliar," lanjutnya. Kemenperin, lanjutnya, saat ini tengah mengusulkan skema insentif Tax Allowance bagi investor yang akan berinvestasi atau industri yang akan memperluas pabrik pada sektor industri mainan dan industri alat permainan nasional.

Usulan tersebut telah dimasukan ke dalam Rancangan Peraturan Pemerintah mengenai Tax Allowance. Selain itu, sektor industri mainan dapat memanfaatkan fasilitas fiskal berupa Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BMDTP) pada sektor industri tertentu yaitu subsidi bea masuk oleh pemerintah atas bahan baku produksi yang diimpor oleh suatu perusahaan. Kemudian pemerintah menerapkan pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) mainan anak secara wajib.

Selain memberikan jaminan terhadap produk yang masuk ke pasar domestik merupakan yang berkualitas dan aman bagi konsumen, penerapan SNI mampu juga meningkatkan daya saing produk dalam negeri serta menembus pasar ekspor. "Kebijakan kebijakan ini yang perlu kami sosialisasikan ke pelaku pelaku industri. Diharapkan sektor industri mainan itu terus bertumbuh dan mampu bersaing di pasae global," pungkasnya.

Berita Terkait

Agustus 2019, IHPB Umum Nonmigas Naik 0,14 Persen

Nurofia Fauziah

3 Keuntungan dan Cara Mengajukan Kartu Kredit Secara Online Melalui CekAja

Nurofia Fauziah

Wacana Penyederhanaan BBM Dikhawatirkan Bebani Biaya Logistik

Nurofia Fauziah

Pemerintah Harusnya Tegas soal Larangan Ekspor Masker & APD Ombudsman

Nurofia Fauziah

karyawan Daihatsu Bergantian menuju Pabrik & Persingkat Waktu Produksi Respon Keputusan Pemerintah

Nurofia Fauziah

IHSG dari Berbalik Arah Negatif Waspada

Nurofia Fauziah

Pemerintah Tambah Surat Utang Berdenominasi Dolar As Dan Euro Tambal Defisit

Nurofia Fauziah

3 Manfaat yang Kamu Dapatkan saat Menggunakan Mobile Banking

Nurofia Fauziah

Mau Gunakan Jasa Pengiriman ke Luar Negeri? Perhatikan Hal Berikut  

Nurofia Fauziah

BTN Optimistis Bisa Lewati Target Laba di RBB 2020 Kantongi Laba Rp 768 Miliar di Semester I 2020

Nurofia Fauziah

Berikut Alasannya 24 April 2020 Rupiah Kembali Melemah menuju Rp 15.505 per Dolar AS Jumat

Nurofia Fauziah

Leave a Comment