Kesehatan

11 Ciri Ciri Stres Sebagai Pertanda Anak Terkena Anoreksia

Selain fisik yang sangat kurus, penderita anoreksia juga memperlihatkan ciri ciri stress. Anoreksia nervosabukan sekedar kelainan pola makan, namun juga kondisi serius yang mengenai psikologis anak, terutama remaja. Penderita anoreksia pun biasanya menunjukkanciri ciri stresyang harus diwaspadai oleh orangtua. Secara garis besar, perubahan psikologis yang terjadi adalah penggambaran ideal tubuh yang tidak realistis. Penderita anoreksia juga cenderung stres dan mengalami ketakutan berlebihan untuk menjadi kegemukan atau obesitas, meski indeks massa tubuhnya sudah di bawah normal yang ditandai dengan postur tubuh tidak ideal (terlalu kurus). Penderita anoreksia nervosa biasanya terlihat karena menunjukkan perubahan fisik yang signifikan. Perubahan fisik tersebut meliputi:

Tekanan darah yang sangat rendah(hipotensi) Berkurangnya massa otot Sering merasa kelelahan Pusing Hipotermiaatau suhu tubuh rendah yang ditandai dengan tangan dan kaki yang dingin Perut kembung dankonstipasi Kulit kering Tangan dan kaki bengkak Alopecia ataurambut rontok Tidak menstruasi yang berujung pada infertilitas Insomnia Osteoporosis Irama jantung yang tidak beraturan Muntah muntah yang juga diikuti dengan nafas yang bau dan gigi yang rusak Selain perubahan fisik, penderita anoreksia juga akan mengalami sejumlah perubahan psikologis, terutama berhubungan dengan stres. Namun, mereka biasanya menolak dikatakan mengalami penyimpangan pola makan. Tidak jarang juga ia tidak menyadari bahwa dirinya tengah mengidap kelainan yang mengancam nyawanya. Untuk itulah, diperlukan peran orang lain, terutama orangtua, untuk menyadari perubahan psikologis yang terjadi pada anak yang menderita anoreksia nervosa. Berikut ciri ciri stres yang berkaitan dengan anoreksia nervosa :

Terlihat sering cemas berlebihan akan kemungkinan menjadi gemuk atau obesitas Sering mengukur dan menimbang berat badan, serta mencermati kondisi tubuh di depan cermin Berbohong tentang jumlah makanan yang ia konsumsi Tidak ingin makan atau menolak untuk makan Menolak dikatakan kelaparan Terlihat murung ataubahkan depresi Libido berkurang Pikun Berperilakuobsesive compulsive Sering marah marah Berolahraga berlebihan Ketika orangtua menemukan ciri ciri stres di atas, sebaiknya orangtua tidak langsung menghakimi anak, apalagi memerintahkannya untuk makan banyak. Bagi penderita anoreksia, semua hal yang berasosiasi dengan makan akan membuatnya merasa bersalah. Ketika mengalami stres, seseorang kerap bertindak impulsif. Pada penderita kelainan pola makan seperti anoreksia nervosa, tindakan impulsif yang biasanya dilakukan ialah tidak makan dengan jumlah yang cukup atau malah makan berlebihan (binge eating) kemudian melakukanpurging.

Stres ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor sosial maupun lingkungan, misalnya tekanan teman teman sepermainan atau orang orang di sekitarnya tentang tipe tubuh yang ideal. Perasaan bersalah atau malu akan kondisi tubuhnya sendiri juga bisa menyebabkan stres yang berujung pada kelainan pola makan. Meskipun demikian, stres tidak harus berakhir sebagai hal yang menyiksa jika orang tersebut bisa menyalurkannya kepada kegiatan yang lebih produktif. Pada penderita kelainan pola makan, orangtua bisa menjadikan stres yang dialami anak sebagai motivasi untuk beralih pada pola hidup yang lebih sehat dan produktif. Orangtua bisa mengajak anak melakukan berbagai kegiatan positif untuk mengalihkan perhatian anak dari stres. Tujuannya, tentu untuk membuat anak merasa aman dan nyaman dengan kondisi tubuhnya sendiri.

Sebetulnya, tidak ada pengobatan spesifik untuk menangani anoreksia. Namun demikian, dokter biasanya tetap meresepkan obat antidepresan untuk membantu meringankan ciri ciri stres yang berhubungan dengan anoreksia, seperti depresi dan cemas berlebihan. Obat seperti Fluoxetine biasanya diberikan untuk meredakan gejala stres. Hanya saja, obat ini tidak bisa mengobati anoreksia maupun mencegah penderitanya untuk kembali memperlihatkan gejala anoreksia tersebut. Meskipun demikian, obat antidepresan memiliki efek samping, misalnya:

Sakit kepala Mual Penglihatan kabur Mulut kering Diare Susah tidur Penambahan berat badan Efek samping tersebut biasanya akan hilang dalam 1 2 minggu setelah konsumsi obat. Namun, jika efek samping terus berlangsung, segera hubungi dokter. Jangan hentikan secara tiba tiba konsumsi obat antidepresan. Pasalnya, tindakan ini akan memperparah gejala anoreksia nervosa, bahkan bisa menimbulkan gejala penarikan, seperti mual dan muntah, pusing, serta sakit kepala.

Cari tahu informasi selengkapnya mengenai anoreksia di .

Berita Terkait

Marsha Aruan Konsumsi Yogurt Saat Susah BAB

Nurofia Fauziah

Mengapa Perut Wiranto Tak Berdarah saat Ditusuk? Dokter Direktur RSPAD Membeberkan Terjawab Sudah

Nurofia Fauziah

Penerapan Family Center Care Sehingga Orangtua Bisa Berpartisipasi Rawat Bayi yang Berada di NICU

Nurofia Fauziah

5 Mimpi Ini Beri Sinyal Kesehatanmu Sedang Bermasalah Jangan Dianggap Sepele

Nurofia Fauziah

Berlokasi di dekat Lokasi Wisata, RSUD Bali Mandara Banyak Layani Warga Negara Asing

Nurofia Fauziah

Ini Penjelasan Spesiali Gizi Diet Keto Bisa Bikin Lemot

Nurofia Fauziah

10 Buah dan Sayur Ini Mampu Turunkan Kolesterol Usai Idul Adha: Pepaya, Wortel hingga Seledri

Nurofia Fauziah

Harganya Murah Meriah Ramuan-ramuan Tradisional di Bawah Ini Manjur buat Atasi Nyeri Sendi

Nurofia Fauziah

Terawan Lakukan Dua Hal Tangani Penyakit Hepatitis A di Depok

Nurofia Fauziah

Yuk Ikuti Kebiasaan Dokter Cantik Ini Jalan Cepat Minimal 15 Menit hendak Olahraga Murah & Gak Ribet

Nurofia Fauziah

5 Manfaat Minum Air Putih Hangat di Pagi Hari, Termasuk Bisa Tingkatkan Metabolisme Tubuh

Nurofia Fauziah

Waspadai 7 Penyakit yang mengintai Saat Terjadi Banjir

Nurofia Fauziah

Leave a Comment